Kisah Mahasiswa Indonesia Ikut Buat Vaksin Covid-19 di Oxford

Posted on

ahasiswa S3 jurusan Clinical Medicine asal Indonesia di Kampus Oxford, Indra Rudiansyah ikut terjebak dalam peningkatan vaksin virus corona Covid-19. Cerita keterkaitan mahasiswa asal Indonesia ini awalnya trending di Twitter.

Account @wpusparini memberi info jika Indra ikut serta dalam peningkatan vaksin Covid-19 di Kampus Oxford. Dalam produksi vaksin, Oxford kerja sama juga dengan AstraZeneca. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Juni lalu menjelaskan vaksin bikinan AstraZeneca ialah calon vaksin paling depan serta paling maju dalam soal peningkatan.

Indra menceritakan tentang keterkaitannya dalam peningkatan vaksin di Kampus Oxford. Dia menjelaskan sebelum jadi epidemi, dianya tidak terjebak dalam peningkatan vaksin walau Oxford sudah mulai lakukan peningkatan. 

“Awal Covid-19 tampil di awal Januari lalu, mitra saya telah mengawali project ini tetapi ini spesial untuk team emerging bakteri disesase, jika saya di team Malaria, bukan team spesial di Covid,” kata Indra.

Indra menerangkan dia baru terjebak dalam Gugus Peningkatan Covid-19 di Oxford sesudah Covid-19 sudah diputuskan untuk epidemi. Pimpinan peningkatan buka peluang buat semua mahasiswa, staf, atau post doctoral untuk masuk ke team peningkatan.

“Saya mendaftarkan selanjutnya saya membuat daftar kemampuan apa yang saya punyai,” kata Indra.

Selanjutnya, Indra menceritakan jika dianya diletakkan di pengujian untuk lihat tanggapan anti-bodi dari orang yang telah diberi vaksin. Menurut dia ini penting untuk lihat efek atau kemanjuran vaksin.

“Saya bisa sisi mempelajari tanggapan dari relawan. Jadi beberapa orang yang telah di imunisasi diambil sampelnya oleh tenaga kesehatan selanjutnya diolah. Serumnya dipakai oleh saya untuk lihat apa mereka mererspons vaksin itu positif atau mungkin tidak ke vaksin,” tutur Indra.

Indra menceritakan jumlah team di Oxford sejumlah beberapa ratus orang, karena Oxford meningkatkan vaksin dengan kecepatan mengagumkan. Indra menerangkan umumnya untuk memperoleh data uji medis babak I vaksin baru diperlukan waktu 5 tahun. Team Oxford dapat memperoleh data uji medis babak 1 cuma dalam tempo enam bulan.

Takut Terkena Covid-19

Indra selanjutnya menceritakan jika dianya takut terkena Covid-19, dia cemas dianya terpampang Covid-19 diperjalanan dari rumah ke Oxford. 

“Melancong dari rumah ke kantor itu menjadi rintangan tertentu sebab kita cemas terpampang virus itu,” kata Indra.

Di lain sisi, dia menjelaskan tidak cemas terpampang Covid-19 di laboratorium sebab telah mengaplikasikan prosedur kesehatan sampai Alat Perlindungan Diri (APD). Dia menjelaskan laboratorium mengaplikasikan jarak sosial atau physical distancing. 

Indra menjelaskan prosedur kesehatan di laboratorium beralih dengan cara dinamis. Faksinya tetap mengupdate prosedur kesehatan itu.

“Kita di lab aman sebab ada perlengkapan klinis, itu dari rumah ke kantor melawan,” tutur Indra.

Selanjutnya, dia mengharap supaya epidemi dapat selekasnya usai serta kehidupan dapat kembali lagi berjalan normal seperti yang lalu. Dia mengharap vaksin dapat selekasnya ada buat warga, terutamanya buat pasien gawat yang benar-benar memerlukan.

“Keinginan saya pasti ingin kembali pada normal, epidemi dapat usai. Saat telah ada vaksin mudah-mudahan kesemua orang yang perlu vaksin, khususnya beberapa orang dalam populasi kritis dapat vaksin lebih dini,” papar Indra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *